Pengertian Naibul Fa’il (نائب الفاعل)
Dalam ilmu Nahwu, na’ibul fa’il merupakah salah satu dari isim-isim yang dibaca rofa’ (مَرْفُوْعَاتُ الْأَسْمَاءِ). Secara bahasa, na’ibul fa’il berarti pengganti dari fa’il (subjek/pelaku).
Sedangkan secara istilah, na’ibul fa’il adalah isim yang dibaca rofa’ yang jatuh setelah fi’il mabni majhul (tidak menyebut fa’il-nya).
Contohnya: ضُرِبَ عَمْرٌو (‘Amr telah dipukul)
Asalnya: ضَرَبَ زَيْدٌ عَمْرًا (Zaid telah memukul ‘amr)
Jenis Jenis Na’ibul Fa’il
Na’ibul fa’il dibagi menjadi 2 jenis, yaitu:
1). Na’ibul Fa’il Isim Dzhohir
Yaitu na’ibul fa’il berupa kalimat isim yang jelas (isim mufrod, isim tasniyah, jamak’ mudzakkar salim dan sejenisnya).
Contohnya: ضُرِبَ عَمْرٌو (‘Amr telah dipukul)
2). Na’ibul Fa’il Isim Dhomir
Yaitu nai’bul fa’il yang berupa kata ganti. Adapun na’ibul fa’il isim dhomir ada 12, yaitu:
- ضُرِبْتُ (Saya telah dipukul)
- ضُرِبْنَا (Kami telah dipukul)
- ضُرِبْتَ (Kamu [lk] telah dipukul)
- ضُرِبْتِ (Kamu [pr] telah dipukul)
- ضُرِبْتُمَا (Kalian berdua telah dipukul)
- ضُرِبْتُمْ (Kalian [lk] telah dipukul)
- ضُرِبْتُنَّ (Kalian [pr] telah dipukul)
- ضُرِبَ (Dia [lk] telah dipukul)
- ضُرِبَتْ (Dia [pr] telah dipukul)
- ضُرِبَا (Mereka berdua telah dipukul)
- ضُرِبُوا (Mereka [lk] telah dipukul)
- ضُرِبْنَ (Mereka [pr] telah dipukul)
Kaidah dalam Membentuk Fi’il Mabni Majhul
Ada kaidah tertentu untuk mengubah fi’il mabni ma’lum (kata kerja aktif) menjadi fi’il mabni majhul (bentuk pasif).
1). Fi’il Madhi (Kata Kerja Lampau)
ضُمَّ أَوَّلُهُ وَكُسِرَ مَا قَبْلَ الْآخِيْرِ
(Huruf pertamanya dhommah dan sebelum akhir kasrah)
Contohnya:
ضَرَبَ (sudah memukul) ➠ ضُرِبَ (sudah dipukul)
2). Fi’il Mudhore’ (Kata Kerja Sekarang/Akan Datang)
ضُمَّ أَوَّلُهُ وَفُتِحَ مَا قَبْلَ الْآخِيْرِ
(Huruf pertamanya dhommah dan sebelum akhir fathah)
Contohnya:
يَضْرِبُ (sedang/akan memukul) ➠ يُضْرَبُ (sedang/akan dipukul)
Baca Juga: 7 Alasan Fa’il Dibuang dalam Ilmu Nahwu
Hukum-Hukum Naibul Fa’il
Na’ibul fa’il memiliki beberapa hukum yang wajib diikuti, yaitu:
1). Wajib dibaca rofa’.
Contohnya: جُلِسَ أَمَامُكَ (Di depanmu telah diduduki)
2). Jika na’ibul fa’il berupa mudzakkar (laki-laki), maka fi’il mabni majhul-nya harus mudzakkar.
Contohnya: ضُرِبَ الزَّيْدَانِ (dua Zaed telah dipukul)
3). Jika na’ibul fa’il berupa muannas (perempuan), maka fi’il mabni majhul-nya harus muannas.
Contohnya: ضُرِبَتْ المَرْآةُ (Perempuan itu telah dipukul)
4). Jika na’ibul fa’il berupa tasniyah (dua)/jamak (banyak), maka fi’il mabni majhul-nya harus mufrod (tunggal).
Contohnya:
– ضُرِبَ الزَّيْدَانِ (Beberapa Zaid telah dipukul)
– ضُرِبَ الزَّيْدُوْنَ (Beberapa Zaid telah dipukul)
Lafad Lafadz yang Bisa Menjadi Na’ibul Fa’il
Berikut lafadz-lafadz yang bisa dijadikan na’ibul fa’il, yaitu:
- Maf’ul bih
Contoh: كُتِبَتْ الدُّرُوْسُ (Pelajaran itu telah ditulis)
Asalnya: كَتَبَ التَّلاَمِيْذُ الدُّرُوْسَ (Para murid telah menulis pelajaran) - Masdar
Contoh: أُنْطُلِقَ اِلَى بَيْتِ الْحَرَامِ إِنْطِلاَقٌ مُبَارَكٌ (Diberangkatkan menuji Mekkah dengan penuh berkah)
Asalnya: إِنْطَلَقَ الحُجَّاجُ إِلىَ بَيْتِ الْحَرَامِ إِنْطِلاَقًا مُبَارَكًا (Jamaah haji berangkat ke Mekkah dengan penuh berkah) - Dzhorof
Contoh: صِيْمَ بِمَعْهَدِنَا يَوْمُ الْإِثْنَيْنِ وَالْخَمِيْسِ (Pada hari senin dan kamis dilaksanakan puasa di pesantren)
Asalnya: صَامَ الطُّلاَّبُ بِمَعْهَدِنَا يَوْمَ الْإِثْنَيْنِ وَالْخَمِيْسِ (Para santri berpuasa pada hari Senin dan Kamis) - Jer Majrur
Contoh: جُلِسَ عَلىَ الْكُرْسِيِّ (Kursi itu di duduki)
Asalnya: جَلَسَ الطَّلَبَةُ عَلىَ الْكُرْسِيِّ (Para murid duduk diatas kursi)
Baca Juga: Terjemah Kitab Bidayatul Hidayah Bab Muqaddimah Lengkap
