KITABONLINE.net – Bina’ ajwaf (بناء الأجوف) adalah kalimat yang ‘ain fi’ilnya berupa huruf ‘illat (حرف علة). Jika huruf ‘illat tersebut berupa wawu maka disebut dengan Ajwaf Wawi seperti قَالَ (asalnya قَوَلَ), dan jika berupa ya’ maka disebut dengan Ajwaf Ya’i seperti بَاعَ (asalnya بَيَعَ).
Sedangkan yang dimaksud dengan Mabni Majhul (مبني للمجهول) ialah:
اَلْفِعْلُ الْمُجْهُوْلُ مَالَمْ يُذْكَرْ فَاعِلُهُ فِي الْكَلاَمِ بَلْ كَانَ مَحْذُوْفًا لِغَرْضِ مِنَ الْأَعْرَاضِ وَيَنُوْبُ عَنِ الْفَاعِلِ بَعْدَ حَذْفِهِ الْمَفْعُوْلُ بِهِ
(Mabni majhul adalah kalimat yang tidak menyebutkan fa’ilnya di dalam kalam, tapi dibuang karena ada tujuan tertentu dan setelah dibuang maf’ul bih mengantikan kedudukan fa’il.)
Contohnya:
ضُرِبَ عَمْرٌو (‘Amr dipukul)
asalnya
ضَرَبَ زَيْدٌ عَمْرًا (Zaid memukul ‘amr)
Baca Juga: Inilah 7 Alasan Fa’il itu Dibuang Lengkap Beserta Contohnya
Adapun nama lain dari Mabni Majhul adalah Mabni Maful (مبني للمفعول). Keduanya hanya beda dalam istilah penyebutan saja tetapi maksudnya sama. Istilah Mabni Majhul ini sering digunakan dalam ilmu Nahwu sedangkan istilah Mabni Maf’ul sering digunakan dalam ilmu Shorof.
Qaidah Memajhulkan Fi’il Madhi
Adapun qaidah untuk memajhulkan Fi’il Madhi ialah
ضُمَّ أَوَّلُهُ وَكُسِرَ مَا قَبْلَ آخِرِهِ
(Huruf pertamanya dibaca dhommah dan sebelum akhir dibaca kasrah)
Contohnya sebagaimana table berikut ini:
Mabni Ma’lum Mabni Majhul ضَرَبَ (memukul) ضُرِبَ (dipukul) فَتَحَ (membuka) فُتِحَ (dibuka) نَصَرَ (menolong) نُصِرَ (ditolong
Di atas merupakan contoh Mabni Majhul yang berupa Bina’ Shahih. Sedangkan untuk Bina’ Ajwaf terdapat sedikit perbedaan dalam kaidahnya, yakni sebagaimana penjelasan berikut ini.
Cara Memajhulkan Bina Ajwaf
Apabila fi’il yang dimabni majhulkan itu berupa Fi’il Madhi Bina’ Ajwaf, maka ada 3 cara baca yang masyhur, yaitu:
1. Membaca Kasrah
Yaitu fa’ fi’ilnya dibaca kasrah dan ‘ain fi’ilnya diganti ya’.
Seperti قِيْلَ dan بِيْعَ yang asalnya adalah قَالَ dan بَاعَ.
2. Membaca Dhommah
Yaitu fa’ fi’ilnya dibaca dhommah dan ‘ain fi’ilnya diganti wawu.
Seperti قُوْلَ dan بُوْعَ yang asalnya adalah قَالَ dan بَاعَ.
Membaca dhommah ini hanya berlaku di sebagian kalangan Arab saja, yakni Bani Dubair dan Bani Faq’as. Dan kedua bani ini merupakan dua klan yang berbahasa fashih dari kabilah Bani Asad
3. Membaca Isymam
Yaitu membaca diantara harakat dhommah dan kasrah. Maksudnya membaca dhommah sebentar lalu membaca kasrah.
Praktik membaca Isymam pada Bina’ Ajwaf berbeda dengan membaca Isymam dalam ilmu tajwid yang hanya melakukan isyarat membaca dhommah dengan bibir (mencucu) ketika membaca lafadz لَا تَأْمَنَّا [Qs. Yusuf: 11].
Sedangkan untuk tulisan, bacaan Isymam pada Bina’ Ajwaf itu tetap menggunakan ya’ yaitu قِيْلَ dan بِيْعَ. Hal ini karena di kalangan Arab, membaca kasrah lebih dominan daripada membaca dhommah pada Bina’ Ajwaf. (Lihat: Hasyiyah Khudory, jilid 1, hal 169)
Apabila dikhawatirkan terjadi kesalahpahaman di antara salah satu dari ketiga cara baca di atas, maka cara yang berpotensi menyebabkan kesalahpahaman tersebut harus ditinggalkan.
Keterangan di atas sebagaimana telah dipaparkan oleh Imam ibnu Malik dalam Nadhom Alfiyah yang berbunyi:
عَيْنًا وَضَمٌّ جَا كَبُوْعَ فَاحْتُمِلْ # وَاكْسِرْ أَو اشْمَمْ فَا ثُلاَثِيٍّ أُعِلْ pada ‘ain fi’ilnya, dan membaca dhommah itu juga (boleh) seperti lafadz بُوْعُ Bacalah kasrah atau Isymam pada fa’ fi’ilnya fi’il tsulasi yang berupa furuf illat ………………………………………. وَإِنْ بِشَكْلٍ خِيْفَ لَبْسٌ يُجْتَنَبْ Dan jika dikhawatirkan terjadi salah faham karena harakat maka harus dijauhi.
