Pengertian Masdar dan Pembagiannya dalam Bahasa Arab

pengertian masdar, pembagian serta contohnya
Pengertian Masdar dan Pembagiannya dalam Bahasa Arab.

KITABONLINE.com – Kata masdar (مَصْدَر) berasal dari kata shadara, yasduro, shodran, masdaran (صَدَرَ – يَصْدُرُ – صَدْرًا – مَصْدَرًا). Ia memiliki bentuk pluran (jamak) yakni mashodiru (مَصَادِرُ). Secara bahasa, kata masdar berarti asal atau sumber.

Dalam gramatika bahasa Arab, pelajaran tentang masdar sangat penting untuk diketahui, karena ia memiliki peranan untuk mengetahui sumber atau asal muasal suatu kalimat. Nah, pada artikel ini kami akan menjelaskan tentang pengertian masdar, pembagian serta contohnya.

Bacaan Lainnya

Pengertian Masdar

Secara istilah, masdar ialah

المَصْدَرُ هُوَ اللَّفْظُ الدَّالُّ عَلَى الْحَدَثِ مُجَرِّدًا عَنِ الزَّمَانِ مُتَضَمَّنًا أَحْرُفَ فِعْلِهِ

Artinya: Masdar adalah lafadz yang menunjukkan makna hadats (pekerjaan), tanpa disertai zaman (waktu) dan memuat huruf fi’ilnya.1

Adapun yang dimaksud dengan hadats disini adalah اَلْمَعْنَى اَلْقَائِمُ بِالْغَيْرِ (yakni sesuatu yang melekat pada perkara lain).

Adapun contoh dari masdar ialah seperti lafad ضَرْبًا (pukulan).

Masdar sendiri dikategorikan sebagai kalimat isim. Dalam bahasa arab disebutkan bahwa kalimat isim tidak serta zaman (waktu) yang tiga, yakni zaman madhi (lampau), zaman hal (sedang/akan), dan zaman istiqbal/mustaqbal (akan). Maka akan menjadi tidak masuk akal, apabila kalimat isim tersebut termasuk masder sendiri memiliki zaman. Seperti lafadz اَلْبَيْتُ (artinya rumah), jika memiliki zaman maka berarti “sudah rumah”, “sedang rumah” dan “akan rumah.”

Pembagian Masdar

Masdar dibagi menjadi 2 (dua) yaitu:

1. Masdar Ghoiru Mim

مَا لاَ يَكُوْنُ فِيْ أَوَّلِهِ مِيْمٌ زَائِدَةٌ
Yaitu masdar yang mana huruf pertamanya tidak berupa huruf mim tambahan.

Masdar ghoiru mim ini juga dibagi dua:

a). Masdar ghoiru mim yang berasal dari fi’il tsulasi (3 huruf) dan dihukumi sebagai masdar sama’i. Adapun yang dimaksud dari sama’i disini ialah masdar yang mana lafadnya tersebut sudah ditentukan oleh orang-orang arab dan tidak dapat disamakan dengan wazan yang lain. Misalnya lafadz نَصَرَ masdarnya adalah نَصْرًا.

Pada umumnya, masdar ghoiru mim itu berupa sama’i, namun ada sebagian yang diqiyaskan pada wazan-wazan tertentu. Artinya, Jika kita menemukan sebuah lafaz yang masdarnya tidak dikenal, seperti yang diucapkan oleh penutur asli bahasa Arab, kita dapat menganalogikannya (mengkiaskannya) dengan wazan yang masdarnya sudah ada. Pendapat ini telah disampaikan oleh Imam Akhfasy dan Imam Kholil.

Berbeda dengan imam Farro’, beliau menyatakan bahwa boleh mengqiyaskan suatu lafadz sekalipun sudah ada wazan sama’i-nya.2

Baca Juga: Apa Itu Mu’rab dan Mabni? Pengertian dan Contohnya

Berikut ini adalah wazan-wazan masdar yang berasal dari fi’il tsulasi mujarrad (fi’il tiga huruf) yang dihukumi qiyasi:

  1. Wazan فَعْلٌ, contohnya ضَرْبٌ
  2. Wazan فَعَلٌ, contohnya فَرَحٌ
  3. Wazan فُعُوْلٌ, contohnya جُلُوْسٌ
  4. Wazan فُعُوْلَةٌ dan فَعَالَةٌ, contohnya سُهُوْلَةٌ dan ضَخَامَةٌ

b). Masdar ghoiru mim yang berasal dari fi’il ghoiru tsulasi mujarrad (fi’il selain tiga huruf) yakni berupa fi’il mazid ruba’i (empat huruf), khumasi (lima huruf), sudasi (enam huruf). Kesemua fi’il ini dihukumi qiyasi dengan mengikuti wazan-wazan berikut ini:

  1. Wazan تَفْعِيْلاً, contohnya تَفْرِيْحًا
  2. Wazan إِفْعَالاً, contohnya إِكْرَامًا
  3. Wazan فِعْلاَلاً, contohnya دِخْرَاجًا
  4. Wazan فِعَالاً, contohnya قِتَالاً

2. Masdar Mim

اَلْمَصْدَرُ الْمِيْمِيِّ هُوَ مَا كَانَ فِي اَوَلِهِ مِيْمٌ زَائِدَةٌ
Masdar mim adalah lafadz yang diawalnya berupa huruf mim tambahan (selain wazan مُفَاعَلَةٌ).

Adapun masdar mim ini memiliki wazan qiyasi, yakni apabila berupa fi’il tsulatsi mujarrod yang ber-bina’ shohih (بناء صحيح), bina’ ajwaf (بناء أجواف), bina’ mahmuz (بناء مهموز) serta bina’ mudlo’af (بناء مضاعف), maka masdar mimnya ikut wazan مَفْعَلٌ.

Contohnya:
Bina’ shohih, yaitu مَنْصَرٌ.
Bina’ ajwaf, yaitu مَقَالٌ asalnya مَقْوَلٌ.
Bina’ mahmuz, yaitu مَسْأَلٌ.
Bina’ mudhoaf, yaitu مَمَدٌّ asalnya مَمْدَدٌ.

Namun, jika berupa bina’ mitsal wawi, maka masdar mim-nya ikut wazan مَفْعِلٌ, contohnya adalah مَوْعِدٌ dari madhi وَعَدَ.

Apabila berupa selain fi’il tsulatsi mujarrod maka masdar mim-nya sama seperti wazan isim maf’ul-nya, contoh: مُعْتَقَدٌ dari madhi اِعْتَقَدَ yang mana isim mafulnya adalah مُعْتَقَدٌ.


  1. Kitab Jami’uddurus, Juz 1, hal 123 ↩︎
  2. Ibid, juz 1, hal 124. ↩︎

Pos terkait